Lelaki Berkaos Merah
“Mana Kasir?” tanya seorang pemuda yang baru saja masuk cafetaria kepada pelayan yang mendekatinya.
| http://www.alerttodayflorida.com/stoponred |
Kaos
merah menyala dipadu jeans hitam yang sudah koyak di kedua sisi lututnya. Ia langsung
menunggu di depan meja kasir dengan kedua tangan yang dibenamkan kedalam saku
celananya. Sembari menunggu, ia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya,
lalu tangannya menggenggam sekumpulan rambut yang kemudian dikucirnya. Beberapa
menit kemudian seorang perempuan berseragam datang menemuinya.
Dari
kejauhan kasir perempuan itu tampak serius. Berkali-kali ku lihat ia
mengutak-atik kalkulatornya. Sambil membolak-balikkan lembaran buku panjang
yang ada di hadapannya, ia menunjukkan sesuatu yang tertulis di dalamya. Tetapi
pemuda yang berdiri di depan meja kasir itu tetap tak bergeming. Padahal sudah lebih
dari 10 menit ia berada di sana.
Ku
lihat kiri-kanan tak seorang pun yang memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.
Pelayan yang lain pun tak ada. Cafetaria ini memang tergolong baru. Maklum saja
kalau pelanggannya masih bisa dihitung dengan jari. Belum lagi keterbatasan
ruangannya yang hanya berisi beberapa meja dan kursi saja. Namun desain
interiornya unik, sehingga membuatku ingin kembali nongkrong di sini.
“Ah...
peduli amat, paling cuma salah hitung aja tu kasir,” pikirku.
Aku
melanjutkan BBM-an ku di sela-sela makan siang berdua dengan sahabatku. Secara
tak sengaja mataku melirik ke arah
mereka yang masih berbincang serius di tempat yang sama. Rasa ingin tahuku mulai
muncul. Ditambah lagi pemuda itu sering kali menggerakkan tangannya secara ‘liar’
saat berbicara. Entah apa yang mereka ributkan. Sesekali badannya membungkuk dengan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja.
Karena
semakin curiga, akhirnya ku putuskan untuk mendekati mereka.
Sebagai seorang
gadis tomboy, naluri untuk membela perempuan pun muncul. Tak tahan rasanya
melihat ada laki-laki yang bersikap kasar dan seenaknya pada wanita. Walau
hanya pernah menjadi finalis pencak silat saat SMA dulu, aku tak gentar. Berbekal
sedikit ilmu beladiri dan emosi yang semakin meninggi itulah aku pergi
menghampiri mereka. Belum sampai aku di sana, pemuda itu bergegas pergi. Namun
anehnya, ia sempat menoleh ke belakang dan melemparkan senyuman kecil kepadaku.
Dengan
terburu-buru ia melangkah keluar menuju ke tempat parkir. Setelah memakaikan
helm retro di kepalanya, ia pun berlalu dengan vespa bututnya yang semak dengan
aksesoris tak jelas. Ku urungkan niat untuk mengejarnya. Ku alihkan perhatianku
pada perempuan yang masih terpaku dekat meja kasir.
“Ada masalah apa kak? Kayaknya serius banget!
Cowok tadi nggak mau bayar ya?” tanyaku menyelidik.
“Ah
nggak kok, cuma salah kira aja bill yang kemarin. Kaminya silap.”
“Trus,
kenapa kakak diam aja waktu dia bentak-bentak?” Balasku tak terima.
Perempuan
manis yang berseragam itu pun tersenyum ramah padaku. Kemudian ia mengambil
kursi dan mempersilakanku duduk. Setelah melihat keadaanku yang kembali rileks,
ia mencoba membuka percakapan.
“Dua
hari yang lalu, pas hari Minggu, siangnya adek di sini juga kan?”
“Iya,
kenapa?”
“Masih
ingat nggak sama dua cowok yang suka ketawa keras-keras dan siul-siul yang
duduk di situ?” tangannya menunjuk ke tengah ruangan.
“Oh...
iya.”
“Nah,
waktu mereka mau bayar, teman kakak salah hitung. Harganya nggak sesuai dengan
yang ada di list menu dan air minumnya juga lupa dihitung. Karena merasa ada
yang kurang, cowok tadi balik lagi. Dia tanya harga menu makanan yang
sebenarnya, dan juga kasih tahu kalo minumnya nggak dimasukin ke bill. Dia cuma
mau memastikan kalo bayarannya belum cukup dan ingin membayar sisanya.”
“O...,
gitu ya?” tanganku menggaruk-garuk kepala. Ia kembali tersenyum. Segera ku
turunkan lengan kemeja panjang yang telah ku singsingkan saat darahku memuncak
tadi. Betapa cerobohnya aku jika sempat menghajar laki-laki itu. Penampilannya
yang urakan dan rambutnya yang semi gondrong itu telah mengaburkan
penglihatanku. . Ah... semoga saja aku bisa bertemu lagi
dengannya untuk meminta maaf. Lelaki berkaos merah
Comments
Post a Comment