Nol Kecil
![]() |
| TK FKIP. Doc pribadi. |
"Kita balik kampung aja ya?"
"Maksud Ayah?"
"Yaa, kita pulang kampung. Tinggal di sana kayaknya lebih bagus buat anak-anak kita."
"Tapi, si Abang kan udah sekolah di sini?"
"Ga papa, nanti biar Ayah yang urus surat pindahnya."
Mamak mengangguk sepakat dengan rencana Ayah.
***
"Salim dulu sama Cecek, sama semuanya."
Aku dan abangku menyalami satu per satu mulai dari Cecek (adik Ayah yang perempuan), Ama (suami Cecek), sepupuku, dan terakhir nenekku.
"Baik-baik lah di jalan ya! Jangan bandel - bandel di kampung!"
"Iya Nek," sahut kami bersamaan setelah dapat uang jajan dari nenek plus cipika cipikinya. Aku segera menyeka pipi kanan - kiriku, tak sudi bedak 'My baby-ku' luntur. Duh si Nenek!
"Hati - hati di jalan! Kabari kalo udah sampe yaaa.."
"Insya Allah. Daaah..." Mamak membalas seruan Cecek, diikuti sapaan perpisahan dari kami semua. Mobil L300 pun melesat cepat meinggalkan Kota Medan menuju kampung halamanku.
***
"Ciee… anak Medan udah pulang! Kenapa balik ke Banda, ga enak ya di sana?"
"Enak kok! Tapi lebih enak di sini kayaknya."
"Hahaha," kami tertawa bersama melepas kerinduan yang udah lama tersimpan.
"Kamu udah sekolah ya Di?"
"Iya, di TK FKIP. Kamu?"
"Aku nggak. Abang aja yang sekolah."
"Ke TK aku aja, biar kita bisa main sama-sama nanti!"
"Oke deh."
Setelah sekitar semingguan aku di kampung, akhirnya aku diterima jadi siswa TK. Hari pertama pakai seragam sekolah dan melihat taman bermain. Eummm… inilah surga yang ku tunggu - tunggu!
***
"Hei Lif, sini! Duduk di samping aku aja," seru Aldi bersemangat.
Aku terheran - heran melihat isi ruangan kelas baruku. Meja dan kursi berwarna - warni; merah, kuning, hijau, dan biru. Ada tempelan - tempelan kertas yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Nampaknya asik juga nih.
"Ayo masuk. Duduk di sebelah Aldi ya."
"Iya Bu Guru."
"Panggil Ibu, Bu Asma aja ya," ucap guru pertamaku dengan lembut sambil tersenyum ramah selesai aku menyalaminya.
"Iya Bu Asma." Aku melangkah pelan menuju ke tempat Aldi. Kedua tanganku memegang erat tali tas sambil merapatkannya ke dada. Sepertinya, semua mata dengan wajah yang masih polos itu tertuju padaku. Ada apa ini?
Untung saja, salaman dan senyumannya Bu Asma tadi membuat tubuhku tak jadi mengkristal bagai es batu. Ah, makasih Bu Asma!
"Anak - anak, angkat tangannya. Ayo berdoa dulu sebelum makan."
"Bismillaa...hirrahmaa...nirrahim. Allahumaa… baariklanaa… fi maa… razaqtanaa… wa qinaa… 'azaabannaar… Aamiin…"
Hari pertamaku di TK berjalan mulus, walau pun sempat terdengar suara sepatu kuda dari balik dadaku. Ah sudahlah!
***
Tak perlu menunggu waktu lama menjadi anggota keluarga di sekolah baruku ini. Aldi tak pernah bosan mengajakku mencoba berbagai permainan seru yang membuatku lupa lautan.
Kesenangan itu sedikit mengganggu pikiranku saat ada yang menanyakanku kelas berapa.
"Alif di TK kelas berapa?"
"Nol kecil."
"Siapa yang antarin ke sekolah?"
"Ayah," jawabku polos.
"Dulu waktu si Abang TK langsung di 'Nol besar' saya masukin," sambung si Mamak kepada tetangga yang sedari tadi mewawancaraiku.
"Memangnya 'Nol besar' lebih gede dari 'Nol kecil' ya?" Aku mulai bingung.

Comments
Post a Comment