Cot Kasmaran


PING! Sebuah pesan singkat masuk ke hapeku.

"Di mana, udah pulang?"

"Udah, ini lagi di kede."

"Si Obeng ajak kita survei untuk camping nanti."

"Sekarang?"

"Iya, sekarang."

Ku lirik jam tanganku yang sudah menunjukkan jam setengah enam sore. Tubuhku masih terasa lelah karena aktifitas kantor seharian. Baru saja ingin rebahan meluruskan badan sejenak, tapi tiba-tiba Sayed mengajakku ikut. Aku jadi bersemangat, walau pun sebenarnya belum puas istirahat.

"Ayo lah kalo begitu. Aku ikut."

"Oke, tunggu di situ, aku jemput."

Selang beberapa menit, Mio Soul berhenti di depan warung. Aku sudah siap dengan penampilan seadanya. Toh, cuma survei kan? Aku cuma pakai kaos dipadu jeans biru denim. Tak lupa dengan jaket sweater kesayanganku, atribut wajib yang tak pernah tinggal jika aku keluar malam.

Ku lihat Sayed  sudah stand by. Kami bersepakat untuk bawa satu motor saja, yaitu punya Sayed. Setelah mengunci pintu warung, aku membawa motorku untuk diparkir di rumah biar aman. Kuncinya aku cabut dan bawa bersamaku. Ini cuma survei, tak kan lama pikirku.

Setelah itu, aku duduk berboncengan di belakang Sayed. Kami pun melesat menuju ke tempat Obeng dan kawan-kawan lain yang sudah menunggu. Tiba di Kulam Kupi, aku melihat Obeng dengan setelan jas semi formal dan kaos putih di dalamnya dipadu dengan skinny jeans putih atau chino krem, entahlah. 

Dia duduk bersama seorang wanita, yang namanya ku ketahui belakangan. 

Obeng memanggilnya Ina. Dia yang punya ide untuk camping di tempat yang akan kami survei ini. Lalu kenapa harus dia?

Ternyata Ina bukanlah anak kemarin sore yang baru selesai nonton film 5 Cm tiba-tiba bersemangat jadi pendaki yang ingin menaklukkan bukit-bukit dan gunung-gunung tinggi. Dengar-dengar sih rekam jejaknya udah sampai ke Rinjani. So, ini cewek memang punya hobi original dengan dunia pendakian bukan kawe-kawean.

***

Saat kami mau bergerak ke lokasi survei, ternyata ada dua orang lagi yang akan bergabung dengan kami. Mereka adalah Ikhsan, biasa dipanggil Son, dan Munawir. Penampilan mereka juga  sama seperti kami, hanya dengan setelan biasa untuk santai di warkop.

"Kalian duluan aja, kami makan mie dulu. Nanti kirim lokasinya, biar bisa kami nyusul." Ikhsan dan Munawir lagi menunggu pesanan mie kepiting, dan mereka tetap mau ikut.


Sekedar informasi, mie Aceh adalah salah satu kuliner khas Aceh yang wajib dicoba oleh wisatawan atau pelancong kalo lagi main ke Aceh selain kopi. Tapi jangan heran kalo nanti kawan-kawan hanya menemukan sedikit tempat jajanan atau warung yang menjajakan mie Aceh, padahal ini tempat asalnya.


Jangan bingung. Kebanyakan penjual mie Aceh tidak menuliskan 'MIE ACEH' di rak jualan atau warungnya, melainkan diikuti dengan nama pemilik atau juru masaknya seperti 'MIE RAZALI, MIE AYAH,' dan seterusnya sebagai brand usaha mereka. Yang mereka jual itulah mie Aceh.

Aku, Sayed, Obeng, dan Ina bergegas menuju parkiran lalu berangkat. Jalanan yang kami lalui agak lumayan padat. Yaah… karena aktiftas pulang kerja mungkin. Obeng dan Ina melaju di depan. Kami membuntuti mereka dari belakang, karena tidak tau lokasi yang akan dituju.

Obeng membawa motornya dengan cepat. Aku dan Sayed sampai kehilangan jejak mereka. Walau pun sempat kelewatan dari lokasi survei, akhirnya sampai juga setelah dituntun oleh Ina melalui hape. Ikhsan dan Munawir juga sampai beberapa saat  setelah dituntun seperti kami.

Sesampainya di sana, kami mencari rumah Keuchik (red- Kepala desa) untuk menanyakan prosedur agar bisa camping di bukit yang ada di desanya. Setelah mengenalkan diri kami, Pak Keuchik menjelaskan beberapa aturan adat di desanya. 

Karena sudah masuk waktu magrib, pak Keuchik mengajak kami yang cowok untuk shalat berjamaah di mushalla desa. Sementara Ina dipersilakan shalat di rumahnya.

Selesai shalat, pak Keuchik mengarahkan kami kepada pemuda setempat. Mereka yang akan menemani kami sebagai guide menuju puncak bukit nanti. Dengan begini rencana survei kami akan berjalan lancar tanpa menyalahi aturan.

Oya, sebelum naik ke puncak kami singgah di warung desa. Kami beli beberapa botol air mineral dan roti untuk mengganti energi yang terkuras selama pendakian. Tampaknya warung ini juga dijadikan tempat nongkrong pemuda setempat sekaligus tempat jajanan sebelum mendaki.
***

Jalan setapaknya bagus. Alhamdulillah cuaca malam itu mendukung, udaranya tenang dan tidak mendung. Kami jalan beriringan sampai tiba di kaki bukit. Sayangnya, pencahayaan kami terbatas. Pemandangannya mungkin akan lebih indah jika kita mendaki di pagi atau sore hari. 

Kami mulai bergerak naik. Aku begitu bersemangat. Begitu pun dengan yang  lain, kelihatannya mereka sangat menikmati langkah demi langkah falam perjalanan ini. Abang-abang guide yang memandu kami menyesuaikan gerak langkah dengan kami. Walau pun mereka mampu bergerak lebih gesit dari itu.


Sekitar sepuluh menit dari kaki bukit, medan makin curam. Plastik yang berisi botol mineral ku kalungkan ke leher. Jika tidak, ini akan sangat mengganggu dan bisa membuat tubuh tidak leluasa dalam bergerak.

Jalur pendakian semakin ekstrim. Kedua tanganku ikut mencari pegangan yang kuat. Dahan pohon dan akar yang menyembul ke permukaan tanah kerap jadi sasaran. Ditambah dengan sandal jepit kasual yang licin, beberapa kali aku hampir jatuh terpeleset. Jantung berdebar hebat. Adrenalinku kian meningkat.

Berbeda dengan pemandu kami, mereka sangat tenang dan santai. Tidak banyak bicara, namun mereka sangat care dengan kondisi kami saat itu.

Beruntungnya, jalur yang kami lalui banyak ditumbuhi pohon jamblang yang sedang berbuah. Sambil naik, sambil metik. Asik!

Tapi tidak segampang itu kawan! Pepohonannya tumbuh di tanah yang kemiringannya mungkin sekitar 90 derajat. Jangan coba-coba memetik kalo tidak kuat mental dengan pijakan yang tidak datar itu.

Langkah kami semakin pelan, dan sempat terhenti sejenak untuk mengatur tenaga. Lumayan, bisa sambil metik jamblang. Hahaaa…

Akhirnya kami sampai di sebuah tanah yang agak lapang dan tidak semiring yang tadi. Terlihat kerlap-kerlip lampu pemukiman penduduk. Laksana bintang- gemintang yang bertaburan di langit. Aku takjub melihat pemandangan ini, yang lain juga begitu. Tapi tunggu dulu! Kita belum sampai di puncak. Pendakian ini belum sampai garis finish.

Di sini kami beristirahat sebentar, membasahi kerongkongan yang udah mulai kering dan mencoba melumat beberapa biji jamblang. Spot indah ini telah menyita waktu kami sekitar 15 menit. Kami bergantian mengambil foto dengan berbagai pose kreatifitas masing-masing.

Setelah merasa istirahatnya cukup, kami melanjutkan pendakian. Jalurnya tidak separah yang pertama. Jadi, langkah kami bisa dipercepat. Sekitar 20 menit dari tempat kami beristirahat tadi, akhirnya kami benar-benar udah di puncak.

Tapi sayang, lokasi paling strategis di puncak udah ada yang tempati. Ternyata sudah ada beberapa kelompok pendaki lain di sana. Mereka udah menyalakan api unggun sambil memainkan gitar. Aku lupa, lagu apa yang didendangkannya saat itu.

Dengan sigap, si abang pemandu membawa kami ke lokasi lain yang masih kosong. Agak turun sedikit dari puncak, tapi masih oke lah untuk memanjakan mata dengan karya tuhan yang Maha Indah ini. Masya Allah!

Setelah mengumpulkan beberapa ranting kayu yang kering, api unggun pun dinyalakan. Lumayan untuk menghangatkan tubuh.
***



"Bang kalo nginap gimana, apa boleh?" 

"Boleh nggak apa-apa, kan ada kami yang mengawasi," jawab pemandu kepada temanku. Rencana sebelumnya hanya sampai sekitar  jam 9, lalu turun pulang, tidak bermalam.

Aku sempat terkejut dengan keputusan ini. Kawan-kawan yang lain tidak masalah, karena salah satu dari kami ternyata ada yang tidak sanggup jika harus turun malam ini. Memang harus kami akui, jalur pendakian yang kami tempuh lumayan berat bagi kami yang salah kostum waktu itu dengan tanpa persiapan. 

Jangan ditiru ya kawan-kawan. Setiap perjalanan butuh persiapan yang matang, apalagi ke bukit atau gunung. Persiapan fisik dan mental juga supaya perjalanannya lancar. Tapi kami tidak saling menyalahkan. Tak ada juga yang menginginkan kondisi buruk menghampirinya. Tak ada yang bisa menebak dengan pasti apa yang nanti bakal terjadi.

Aku setuju jika kami harus bermalam. Demi menghindari resiko cedera atau mungkin lebih parah karena memaksa turun di saat kondisi fisik tim kita yang sedang tidak fit. Tapi ada yang mengganjal di pikiranku.

Ya salam! ternyata motorku masih terpakir di luar rumah. Sedangkan kunci motor sekarang ada bersamaku. Untung jaringan telkomsel di atas bukit ini masih oke. Aku telepon ke rumah, kunci serap tidak tau di mana.

Otakku berputar keras memikirkan jalan keluarnya. Akhirnya aku menghubungi adik sepupuku yang tinggalnya tak jauh dari rumahku. Aku memintanya untuk meminjamkan gembok untuk mengamankan motorku. Dia yang saat itu juga sedang tak ada di rumah menyaggupi permintaaanku. Ahh… sedikit lega walau pun jadi tak enak merepotkan malam-malam. Maklum, daerah kami pernah beberapa kali ada kemalingan motor. Jadi waspada aja.

Kira-kira 15 menit kemudian hapeku berdering. Ku lihat di layar ternyata Mamak memanggil.

"Halo, salam alekom…"

"Wa'alikumusalam, ya Mak!"

"Motornya udah dimasukin ke rumah ya."

"Masukin gimana, kan gak ada kunci?"

"Mamak angkat tadi bertiga sama adek-adekmu."

"Iya Mak, makasih."

Aku menutup panggilan dengan mulut tersenyum lebar kegirangan. Bisa kering juga gigiku ini kalo klos ap terus diserbu angin malam. Senang sekali rasanya malam itu. Terharu dan lega hati dan pikiranku bercampur jadi satu. Bersyukur sekali punya Emak yang super strong dan juga adik-adik perempuan. Mereka bersatu melawan kemustahilan. Haha... Aku senyam-senyum sendiri kayak orang dimabuk asmara. Ahhh… Gila!

Comments

TERPOPULER

WhatsApp Tidak Bisa Menambahkan Kontak, Ini Cara Mengatasinya

12 Rabiul Awal Paling Spesial

Aplikasi Ini Siap Tampung Ide Cemerlangmu